DIJAKARTA ADA JUGA YANG BETERNAK BABI.
masterjudibola88.org
Baru saja penulis datang ke sana, sambil ngobrol-ngobrol dengan kerabat penulis. Hal yang penulis lakukan awalnya memang sedang diminta menghabiskan makanan untuk pesta yang sudah diselenggarakan di hari Jumat, Sabtu dan Minggu.
Kalau di tempat penulis, biasanya pesta bisa berhari-hari. Kadang bisa sampai seminggu. Pesta kemarin tergolong pesta biasa saja. Ini urusan diterimanya anak dari pemilik rumah di dalam sekolah tinggi di Jakarta.
Syukuran kecil-kecilan ini “hanya” mengorbankan seekor babi. Biasa di sini kalau pesta besar, dua ekor babi besar-besar bisa dipotong untuk dimakan selama seminggu. Hampir satu kampung ikut meramaikan acara ini.
Nah, ketika penulis sore-sore tadi selesai makan, penulis iseng ingin bertanya mengenai kandang babi. Ternyata kandang babi dirawat oleh pemilik rumah. Biasanya, seminggu sekali atau paling lama dua minggu sekali, kandang babi itu dibersihkan.
Terkadang babi itu dibawa keluar sambil diikat di pohon kelapa di dekat kandang, kemudian pemilik rumah dan beberapa pembantunya ramai-ramai kerja bakti.
Pertama, kandang itu disiram seluruhnya. Siram satu arah agar tokai-tokainya terkonsentrasi di satu arah. Tujuh empat satu itu dilokalisir ke pojokan ruangan.
Memang namanya babi, yang adalah omnivora, tokainya pasti bau banget. Karena apapun dimakan olehnya.
Biasanya, kalau makanan sisa pesta yang tidak habis dan sudah mulai basi, akan dilemparkan ke kandang babi. Rasanya saya mulai paham, mengapa banyak orang yang tidak suka babi. Karena mereka agak sedikit “kanibal” gitu ya? Mari kita kembali ke kandangnya, bukan ke babinya.
Setelah kandang itu disiram dengan air deras dan tokainya dilokalisir, biasanya para ART alias asisten rumah tangga lah yang mendapatkan pekerjaan spesial. Menyerok seluruh kotoran PIG alias schweine itu dengan sekop dan membuangnya ke drum besi yang akan dijemur siang malam di udara terik.
Biasanya ini adalah pekerjaan yang paling tidak favorit. Dalam radius 1 kilometer, daerah tersebut harus dibersihkan dari eksistensi manusia. Jangan coba-coba masuk ke radius itu. Mengapa? Karena dengan masuk ke sana, tentu hidung harus dijepit dengan jepitan baju yang mirip logo Avengers.
Pokoknya jangan. Penulis ingat di Jakarta ada bau-bau semacam itu di daerah Jakarta Utara, kalau tidak salah namanya Jalan Peternakan.
Baunya mirip sekali. Karena tong besi berisi penuh dengan tokai yang masih basah-basah itu dijemur dan uapnya akan menjadi obat nyamuk alami di sana. Selain obat nyamuk yang mengusir nyamuk, mungkin bisa jadi obat orang pengusir orang.
Pemilik rumah yang penulis ajak bicara, kebetulan adalah paman penulis. Ia sudah berusia sekitar 70 tahun. Dan ia beternak kecil-kecilan di rumah.
Jadi kalau mau pesta, setidaknya bisa mengurangi biaya membeli daging. Ada juga beberapa pohon kelapa yang batangnya sudah dicabik oleh golok agar bisa dipanjat. Penulis cukup sering memanjat pohon kelapa, hanya untuk menjatuhkan beberapa butir kelapa.
Kalau mau diadu, penulis mungkin masih kalah dengan paman, yang sudah berusia 70an tahun dalam hal memanjat pohon kelapa. Jari penulis terlalu gemulai untuk naik ke atas. Jenggot dan kumis sih boleh tebal, tapi kalau manjat pohon, eyke mirip Tere Liyeee.
Setelah diserok tokai babinya, sabun pun disiram ke arah lantai-lantai dan tempat makan di kandang itu. Mulai gosok-gosok. Biasanya, hasil gosokan dengan menggunakan sikat, bisa digunakan juga untuk mengusir maling. Hahah. Bercanda.
Entah mengapa, imajinasi liar penulis mendadak menghubungkan antara kandang babi dengan kondisi sampah di Jakarta saat ini.
Penulis miris duakali (bukan lagi sekali) melihat, ketika di kampung penulis, kandang babi pun lebih bersih dari Jakarta, yang merupakan ibu kota negara Republik Indonesia.
Ternyata tingkat kotornya Jakarta jauh lebih parah dari kandang babi di kampung penulis. Bener-bener gak bener ini. Luar biasa warga Jakarta. Masih mau tinggal di tempat yang kalinya lebih kotor dari kandang babi.
No comments:
Post a Comment