UNTUK MENCARI ILMU ITU JANGAN DIPANDANG DIMANA TEMPATKAN,,,YANG TERPENTING LULUS DAN PUNYA KARYA.
bandarjudiqiuqiu.info
Adik saya yang terakhir tahun ini akan masuk kampus. Dia menjalani semua yang pernah saya alami dulu, kebingungan memilih kampus dan jurusan. Bukan hanya itu, kami harus mengatur waktu agar tetap bisa langsung kuliah meski masa pengabdian dari pesantren belum sepenuhnya selesai.
Seperti halnya saya dulu, adik ini sudah ditolak oleh beberapa universitas di ujian pertamanya. Lalu sekarang mencoba lagi di jalur mandiri. Bedanya, dulu saya langsung putus asa dan memilih kuliah ke Malaysia.
Saya pikir, masa-masa memilih jurusan dan kampus adalah periode yang cukup sulit bagi siapapun. Terlebih dari kalangan santri yang punya kurikulum sendiri. Sedikit banyak mereka akan kewalahan dengan materi pelajaran yang selama ini hanya jadi pelengkap di pesantren.
Dan nampaknya, cerita getir dan kebingungan ini masih terus menurun hingga ke generasi sekarang. Untuk itu saya ingin berbagi cerita, tentang beberapa anggapan salah tentang kuliah dan jurusan.
Ketika mencari atau memilih jurusan, selalu yang terpikir di kepala kita adalah, nantinya mau kerja apa? begitupun orang tua dan bahkan tetangga. Pertanyaan semacam itu selalu ada, dari dulu hingga sekarang. Seolah kita sangat meyakini bahwa pelajaran di bangku kuliah pasti sejalan dengan profesi dan pekerjaan yang akan kita hadapi. Lebih dari itu, seolah berprestasi di kampus secara otomatis akan membuat ekonomi keluarga semakin baik.
Dari yang saya alami sendiri, dan juga dialami oleh teman-teman yang saya kenal dari berbagai kelompok, sejatinya ada banyak ketidak sesuaian. Ada yang kuliah jurusan fisika, kerjanya jadi programming IT. Banyak yang kuliah jurusan bisnis dan ekonomi, ujungnya jadi dosen. Ada yang kuliah jurusan keguruan, setelah lulus malah jadi pedagang.
Dan, kalau kita perhatikan, teman-teman atau mereka yang selalu rangking satu di kampus atau sekolah setera SMP dan SMA, sedikit sekali yang juga berhasil dan unggul di kehidupan pasca sekolah. Malahan, orang-orang yang dulu terlihat biasa-biasa saja, bahkan selalu di urutan rangking nyaris terdegradasi, hari ini muncul sebagai orang-orang berpengaruh di lingkungannya.
Jadi menurut saya, sekolah atau kuliah itu hanya tempat untuk membentuk karakter. Tempat kita belajar hidup mandiri, berlajar bersosialisasi membangun jaringan, melahirkan ide-ide dan gagasan.
Hari ini kita hidup di era yang berbeda. Bukan sebatas serba digital dan cepat, tapi orang-orang lebih senang merdeka dan tidak terikat. Teman-teman sebaya saya, yang satu alumni dari pesantren, mungkin masih banyak yang terfokus pada kerja-kerja formal. Terikat kontrak, masuk kantor setiap hari, berangkat pagi pulang sore. Tapi di luar sana, sudah jauh lebih banyak orang-orang yang bekerja berdasarkan proyek. Anak-anak muda hari ini lebih suka kerja di café atau rumah. Mengerjakan pesanan dari banyak perusahaan.
Nah adik-adikku, ke depan kalian akan menghadapi lingkungan yang seperti itu. Kompetensi akan jauh lebih mahal nilainya dibanding nilai-nilai sekolah atau kuliah. Ini sudah bukan jamannya lagi masuk kerja lewat orang dalam. Bukan masanya lagi masuk kerja karena pertimbangan ijazah dan nilai.
Kalau yang kamu andalkan hanya ijazah dan nilai, mungkin pekerjaan yang akan membuatmu nyaman adalah menjadi dosen atau pengajar. Karena di lingkungan perusahaan, yang diandalkan selalu soal kemampuan.
Jika kamu berpikir untuk tetap kerja klasik, ngantor pagi pulang sore, kamu akan selalu bertemu dengan penjilat pimpinan. Mereka akan selalu menjelek-jelekkanmu di hadapan pimpinan, tapi terlihat begitu akrab dan baik denganmu. Dan yang mampu menyelamatkanmu hanyalah skill dan keterampilan. Hasil kerja. Bukan nilai-nilai dan dari universitas mana kamu berasal.
Apalagi kalau kamu ingin seperti anak-anak muda lainnya, yang bisa liburan kapan saja dan tak ada bos yang marah-marah. Kamu harus punya keterampilan yang lebih baik dari sebayamu.
Jaman dan perubahan akan terus mengikuti langkah kita. Dua puluh tahun yang lalu, mereka yang bisa nulis dan menyampaikan aspirasi hanyalah kalangan tertentu. Hari ini, semua orang bisa menulis.
Dulu, yang bisa rekaman video dan masuk teve itu hanya kalangan tertentu. Sekarang, kita semua punya kesempatan yang sama. Tak perlu daftar, tak perlu tes. Yang penting punya karya dan berkualitas.
Untuk itu sebagai penutup, saya akan beri pertanyaan sederhana. Kalau kamu hanya kuliah dan mengejar nilai bagus, tapi kompetensimu tidak diasah, lalu bagaimana caranya kamu bertahan hidup?
Sebagai orang yang tak pernah punya nilai UN, karena lulusan pesantren dengan kurikulum sendiri, perjuangan saya untuk masuk kampus pastilah jauh lebih berat dari mereka yang lulusan sekolah umum. Begitu juga dengan adik-adik kandung saya.
Adik saya yang terakhir tahun ini akan masuk kampus. Dia menjalani semua yang pernah saya alami dulu, kebingungan memilih kampus dan jurusan. Bukan hanya itu, kami harus mengatur waktu agar tetap bisa langsung kuliah meski masa pengabdian dari pesantren belum sepenuhnya selesai.
Seperti halnya saya dulu, adik ini sudah ditolak oleh beberapa universitas di ujian pertamanya. Lalu sekarang mencoba lagi di jalur mandiri. Bedanya, dulu saya langsung putus asa dan memilih kuliah ke Malaysia.
Saya pikir, masa-masa memilih jurusan dan kampus adalah periode yang cukup sulit bagi siapapun. Terlebih dari kalangan santri yang punya kurikulum sendiri. Sedikit banyak mereka akan kewalahan dengan materi pelajaran yang selama ini hanya jadi pelengkap di pesantren.
Dan nampaknya, cerita getir dan kebingungan ini masih terus menurun hingga ke generasi sekarang. Untuk itu saya ingin berbagi cerita, tentang beberapa anggapan salah tentang kuliah dan jurusan.
Ketika mencari atau memilih jurusan, selalu yang terpikir di kepala kita adalah, nantinya mau kerja apa? begitupun orang tua dan bahkan tetangga. Pertanyaan semacam itu selalu ada, dari dulu hingga sekarang. Seolah kita sangat meyakini bahwa pelajaran di bangku kuliah pasti sejalan dengan profesi dan pekerjaan yang akan kita hadapi. Lebih dari itu, seolah berprestasi di kampus secara otomatis akan membuat ekonomi keluarga semakin baik.
Dari yang saya alami sendiri, dan juga dialami oleh teman-teman yang saya kenal dari berbagai kelompok, sejatinya ada banyak ketidak sesuaian. Ada yang kuliah jurusan fisika, kerjanya jadi programming IT. Banyak yang kuliah jurusan bisnis dan ekonomi, ujungnya jadi dosen. Ada yang kuliah jurusan keguruan, setelah lulus malah jadi pedagang.
Dan, kalau kita perhatikan, teman-teman atau mereka yang selalu rangking satu di kampus atau sekolah setera SMP dan SMA, sedikit sekali yang juga berhasil dan unggul di kehidupan pasca sekolah. Malahan, orang-orang yang dulu terlihat biasa-biasa saja, bahkan selalu di urutan rangking nyaris terdegradasi, hari ini muncul sebagai orang-orang berpengaruh di lingkungannya.
Jadi menurut saya, sekolah atau kuliah itu hanya tempat untuk membentuk karakter. Tempat kita belajar hidup mandiri, berlajar bersosialisasi membangun jaringan, melahirkan ide-ide dan gagasan.
Hari ini kita hidup di era yang berbeda. Bukan sebatas serba digital dan cepat, tapi orang-orang lebih senang merdeka dan tidak terikat. Teman-teman sebaya saya, yang satu alumni dari pesantren, mungkin masih banyak yang terfokus pada kerja-kerja formal. Terikat kontrak, masuk kantor setiap hari, berangkat pagi pulang sore. Tapi di luar sana, sudah jauh lebih banyak orang-orang yang bekerja berdasarkan proyek. Anak-anak muda hari ini lebih suka kerja di café atau rumah. Mengerjakan pesanan dari banyak perusahaan.
Nah adik-adikku, ke depan kalian akan menghadapi lingkungan yang seperti itu. Kompetensi akan jauh lebih mahal nilainya dibanding nilai-nilai sekolah atau kuliah. Ini sudah bukan jamannya lagi masuk kerja lewat orang dalam. Bukan masanya lagi masuk kerja karena pertimbangan ijazah dan nilai.
Kalau yang kamu andalkan hanya ijazah dan nilai, mungkin pekerjaan yang akan membuatmu nyaman adalah menjadi dosen atau pengajar. Karena di lingkungan perusahaan, yang diandalkan selalu soal kemampuan.
Jika kamu berpikir untuk tetap kerja klasik, ngantor pagi pulang sore, kamu akan selalu bertemu dengan penjilat pimpinan. Mereka akan selalu menjelek-jelekkanmu di hadapan pimpinan, tapi terlihat begitu akrab dan baik denganmu. Dan yang mampu menyelamatkanmu hanyalah skill dan keterampilan. Hasil kerja. Bukan nilai-nilai dan dari universitas mana kamu berasal.
Apalagi kalau kamu ingin seperti anak-anak muda lainnya, yang bisa liburan kapan saja dan tak ada bos yang marah-marah. Kamu harus punya keterampilan yang lebih baik dari sebayamu.
Jaman dan perubahan akan terus mengikuti langkah kita. Dua puluh tahun yang lalu, mereka yang bisa nulis dan menyampaikan aspirasi hanyalah kalangan tertentu. Hari ini, semua orang bisa menulis.
Dulu, yang bisa rekaman video dan masuk teve itu hanya kalangan tertentu. Sekarang, kita semua punya kesempatan yang sama. Tak perlu daftar, tak perlu tes. Yang penting punya karya dan berkualitas.
Untuk itu sebagai penutup, saya akan beri pertanyaan sederhana. Kalau kamu hanya kuliah dan mengejar nilai bagus, tapi kompetensimu tidak diasah, lalu bagaimana caranya kamu bertahan hidup?
No comments:
Post a Comment