AKHIRNYA LIVERPOOL MENANG JUGA DILIGA CHAMPIONS, TIDAK ADA PROTES DAN MINTA FINAL ULANGAN.
bandarjudikiu.org
Hai Guys, ketemu lagi dengan saya dan kali ini artikel saya membahas sepakbola, karena sudah lama tidak bahas bola dan rasanya tangan ini gatel pengen nulis about football!Oke, sah dan sesuai prediksiku, Liverpool alias The Reds, sukses menyabet gelar Liga Champions, gelar juara paling prestisius dimuka bumi ini berhasil direngkuh oleh anak buah Jurgen Klopp – pria asal Jerman – yang sukses mempersembahkan Gelar Liga Champions ke-6 sepanjang sejarah klub asal kota Merseyside itu berada.
Kemenangan sensasional ini telah menempatkan Liverpool menjadi klub tersukses di Inggris dalam urusan mengoleksi gelar “si kuping besar” dibandingkan dengan klub-klub besar lainnya di Liga Inggris. The Reds telah mendapatkan pengakuan yang luar biasa, karena selain mengoleksi enam gelar, klub bermarkas di Britania Raya ini juga mendapatkan penghargaan “Badge Of Honour” dari UEFA atas capaian klub telah mengoleksi gelar lebih dari lima kali, atau berhasil menjuarai Liga Champions sebanyak tiga kali berturut-turut.
Nah, itulah Liverpool perjalanan panjang nan melelahkan berhasil menjuarai Liga Champions edisi 2018/2019 ini dan mereka berpesta atas kemenangan yang diraih itu. Dan lucunya, tidak ada seorangpun yang protes atas kemenangan 2-0 melawan sesama antar klub Inggris, Tottenham Hotspur tersebut.
Partai bertajuk All English Final ini mengingatkan kita akan perhelatan Pilpres 2019, dimana pasangan paslon 01 berhadapan dengan paslon 02, dan sebagaimana kita ketahui bersama pemenangnya adalah paslon 01 dengan kemenangan telak 11 persen atas paslon 02.
Namun, kita ketahui bersama, paslon 02 tidak mau menerima kekalahan untuk ke sekian kalinya itu, menuduh kecurangan, meminta agar KPU menunda pengumuman, mengerahkan massa melakukan demonstrasi di sekitar kantor Bawaslu, hingga membawa aib kekalahan ini hingga ke Mahkamah Internasional, usai melayangkan gugatan hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi.
Sungguh sangat kontras dengan apa yang dilakukan oleh klub sesama Inggris, the Lilywhites yang kalah dari Liverpool.
Sebagaimana kita ketahui dan ikuti bersama bagaimana jalannya pertandingan antara The Reds vs The Lilywhites, Minggu (2/6/2019) di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid. Bagi yang tidak nonton bisa search di youtube bagaimana Liverpool bisa mengalahkan Tottenham, sehingga bisa berkomentar apakah pertandingan tersebut layak di ulang kembali atau memang setuju jika The Reds wajar jadi pemenang di pertandingan ini.
Nah, ketika pertandingan baru berjalan 1 menit ke menit ke-2, terjadi sebuah insiden di kotak penalti The Lilywhites. Dimana saat itu posisi bola dikuasai oleh Sadio Mane dan berniat mengumpan bola ke arah gawang walau dalam posisi sulit karena diapit oleh dua pemain Tottenham, Mousa Sissoko dan Kieren Trippier. Namun sayang, tendangan Mane mengenai lengan, mengarah ke tangan dari Sissoko dan wasit, Damir Skomina asal Slovenia langsung meniup peluit sembari menunjuk titik putih.
Penalty, disinilah fair play, profesionalisme dan lapang dada para pemain Tottenham kita lihat sangat besar sekali. Tidak ada protes berlebihan, tidak ada permintaan pertandingan di ulang karena baru satu dua menit berjalan, tidak ada aksi mogok pemain, apalagi aksi buka sepatu atau malahan aksi buka kaos, seperti yang pernah dipertontonkan oleh salah satu paslon Pilpres 2019.
Yang ada, menerima keputusan wasit sebagai pengadil lapangan, melanjutkan pertandingan dengan membiarkan M. Salah mengambil Penalty dan Hugo Lloris berdiri di mistar gawang menghadapi penalty.
Boomm....tendangan Salah meluncur deras ke sudut kiri tanpa bisa diantisipasi dengan baik oleh Lloris! 1-0 untuk The Kop. Para pemain Tottenham lagi-lagi tidak patah semangat, pertandingan dilanjutkan. Morucio Pochettino tidak ada menyuruh anak buahnya, alias para pemainnya untuk mogok main, seperti dilakukan oleh paslon 02. Pochettino, mantan pemain Argentina itu percaya akan kemampuan anak buahnya dan melanjutkan pertandingan. Beda sungguh dengan paslon 02 yang tidak mau terima kenyataan pahit hingga memaksakan kehendaknya yang harus terjadi untuk menang di Pilpres 2019 ini.
Akhirnya, di menit ’87 Divock Origi menyempurnakan kemenangan The Reds usai menjebol gawang Lloris dengan kaki kirinya deras menghujam. Gol, 2-0 untuk The Reds. Jadilah Liverpool mengangkat trofi kebanggaan benua biru tersebut untuk ke-6 kalinya usai musim lalu gagal merebutnya dari Real Madrid.
Lantas pelajaran penting apa yang bisa kita petik dan rekomendasikan kepada paslon 02 dan pasukannya alias pendukungnya? Simpel menurut saya, belajarlah dari Liverpool dan Tottenham Hostpur, dimana kedua tim bermain sungguh fair play, tidak ada dusta diantara mereka, tidak ada saling tuduh menuduh dengan mengatakan bahwa Liverpool berbuat curang, menyogok UEFA atau sang pengadil, atau bentuk kecurangan lainlah itu. Tidak ada sama sekali, mereka percaya bahwa penyelenggara, UEFA tidak akan berbuat securang itu.
Semua itu hanyalah game atau permainan, usai permainan kita lihat bagaimana mereka kembali bersalaman, berpelukan, yang menang memeluk, memberikan support dan menyemangati para pemain-pemain yang kalah. Sementara yang kalah, walau berurai air mata kesedihan dan kekesalan, tetap tegar dan berganti jersey atau kostum dengan pemenang.
Nah, ketika itu terjadi di negara kita Indonesia usainya pesta demokrasi dan ketika penyelenggara mengumumkan hasil Pilpres 2019? Akan sangat indah dan menjadikan moment itu menjadi momen pelajaran bagi generasi bangsa ini, betapa saling menghargai, saling support dan saling bersalaman usai pagelaran akan sangat memperindah persatuan dan kesatuan bangsa ini.
Ketika pihak kalah menerima kekalahan dan belajar dari kekalahan serta berbesar hati plus berlapang dada meniru dan mengadopsi bagaimana sikap para pemain-pemain di Liga Eropa itu dalam menghadapi sebuah kekalahan akan membuktikan bahwa jiwa berdemokrasi di negeri kita ini sudah menunjukkan sebuah kedewasaan yang layak kita publikasikan ke seluruh dunia.
Demikianlah pelajaran dari hasil Final Liga Champions 2019, dimana Liverpool juara dan Tottenham Hotspur jadi runner-up. Apakah paslon 02 bisa menerima pelajaran berharga ini?
Sehingga nantinya ketika MK misalnya menolak gugatan mereka dan mereka bisa menerima lapang dada dan penuh kesatria, tanpa meminta ada ulangan Pilpres 2019? Akh Semoga Saja!
No comments:
Post a Comment