Chat with us, powered by LiveChat bukti kemenangan: ITU ALASANNYA APARAT TIDAK BISA MENGUNGKAP TUNTAS SIAPA DALANG UTAMA DARI KERUSUHAN BULAN MEI KEMARIN.

Friday, June 14, 2019

ITU ALASANNYA APARAT TIDAK BISA MENGUNGKAP TUNTAS SIAPA DALANG UTAMA DARI KERUSUHAN BULAN MEI KEMARIN.

ITU ALASANNYA APARAT TIDAK BISA MENGUNGKAP TUNTAS SIAPA DALANG UTAMA DARI KERUSUHAN BULAN MEI KEMARIN.

Image result for ITU ALASANNYA APARAT TIDAK BISA MENGUNGKAP TUNTAS SIAPA DALANG UTAMA DARI KERUSUHAN BULAN MEI KEMARIN.
bandarjudikiu.org

Siapa dalang utama di balik kerusuhan 21-22 Mei? Pertanyaan itu menggelitik—bahkan menghantui—banyak orang. Anda juga kan? Karena saya banyak menulis kolom di media online banyak teman-teman yang bertanya seperti itu. Terus terang, saya tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

Orang bisa saja berspekulasi menyebut nama ini dan itu yang tampaknya benar karena secara logika gampang sekali ditebak dengan intellectual guessing, bisa juga dengan—meminjam istilah penulis seaword—digital forensic. Bukan dengan teori gathuk! “Ah, seharusnya kan gampang sekali siapa yang biasa bersuara nyaring di media daring? Tinggal tangkap saja!” bisa jadi begitu komentar netizen.

Tidak segampang itu, Bro.

Setelah sekian lama mengikuti perkembangan berita berkaiatan dengan hal ini, saya menemukan ungkapan menarik bukan dari pakar melainkan mereka yang berada di akar di komentar berita berjudul “Tak Ada Perlindungan Untuk Kivlan”

Ini komentar warganet. “lama amat nangkap dalang utamanya, pdhl aparat shrsnya sdh tau siapa orgnya. Terlalu bnyk pertimbangan. IPW aja sdh tau kok orgnya tp kok polisi kesannya ragu2 ciduk org tsb. Ayo pak pol segera tangkap dalang utamanya biar negara ini tenang dan ekonomi pulih” diunggah oleh Menang01 yang segera saja ditanggapi oleh Wad yang mengunggah komentar demikian: “Mempertimbangkan orang-orang yang sudah terlanjur gak percaya sama aparat gegara dicekokin hoax. Kalau rusuh, masyarakat luas juga yang rugi. Itulah susahnya aparat, harus jaga keamanan. Kalau perusuh mah gak peduli mau negara rusak, masyarakat rugi, bahkan jatuh korbanpun malah dijadikan bahan untuk mendiskreditkan aparat.”

Cerdas sekali!

Saya ulang pernyataannya yang ciamik ini: “Mempertimbangkan orang-orang yang sudah terlanjur gak percaya sama aparat gegara dicekokin hoax.” Benar. Hal yang buruk, bohong dan menyesatkan jika diulang terus-menerus bukan hanya dipercayai oleh orang yang membaca, melihat atau mendengar, melainkan juga orang yang terus-menerus memberitakan kampanye hitam, hoaks dan ujaran kebencian. Self-delusion ini begitu mengerikan sehingga kebenaran terbukur dalam-dalam di lumpur kebohongan. Lalu apa yang tersisa di permukaan. Orang gila semua!

‘Virus’ hoaks ini begitu mengerikan sehingga menjangkiti banyak orang mulai anak-anak sampai orang tua, tidak sekolah sampai bergelar multi doktor bahkan profesor sekalipun. Doktornya—meminjam istilah seorang teman saya yang bekerja di pemerintahaan—bisa jadi ‘mondok di kantor’. Profesornya bisa saja abal-abal. Suatu hari saya berada di sebuah hotel berbintang lima. Di lobby saya bertemu dengan seorang bapak pakai akik banyak sekali dan saling kenalan. Dia menyodorkan kartu nama dengan gelar ‘Prof’ di depannya. “Bapak Guru Besar di mana?” tanya saya?

Bapak berambut gondrong dan rapi ini berkata, “Lho kok Anda bertanya seperti ini?”

Saat saya tunjukkan gelar ‘Prof’ di depan namanya, dia tersenyum dan berkata, “Oh itu. Prof itu bukan singkatan Profesor, melainkan Profesional.”

“Maksud Bapak?”

“Saya adalah dukun profesional.”

Saya menjabat tangannya dan segera pergi karena perut saya hampir meledak menahan tawa. Peristiwa yang saya alami bertahun-tahun yang lalu ini seakan film yang diputar kembali saat ini. Apalagi banyak intelektual yang pemikirannya begitu dangkal, bahkan di luar nalar orang waras. Bukan karena dia sakit jiwa, tetapi karena dibayar untuk itu.

Inilah bahaya akut dan laten yang sungguh berbahaya bagi nalar kita, terutama hati nurani kita. Ada orang-orang tertentu yang dari gelar, latar belakang dan kedudukannya seharusnya tidak menyampaikan pandangannya yang aneh, nyleneh, bahkan bikin orang awam pun terhenyak. Tidak mungkin orang-orang sekaliber mereka bisa memproduksi hal-hal negatif yang di luar akal sehat. Mereka adalah orang pintar yang pura-pura bodoh agar bisa mempengaruhi orang banyak secara Terstruktur, Masif, Sistematis. Jika mereka tidak bisa menjaga kewarasan karena melontarkan ketidakwarasan, jangan-jangan jumlah rumah sakit jiwa di Indonesia harus dilipatgandakan agar bisa menampung orang-orang semacam ini.

Jika hal ini terjadi, maka di rumah sakit jiwa, kita akan bingung sendiri karena yang memakai baju putih—tenaga medis—maupun yang dirawat sama-sama memakai baju putih. Bukankah baju putih pun bisa dianggap kecurangan di zaman now?

No comments:

Post a Comment