Chat with us, powered by LiveChat bukti kemenangan: PADA SAAT DIA MENJADI PEMIMPIN MAKA DIA HARUS SIAP MELAYANI RAKYAT BAIK YANG MEMILIHNYA MAUPUN TIDAK.

Thursday, June 6, 2019

PADA SAAT DIA MENJADI PEMIMPIN MAKA DIA HARUS SIAP MELAYANI RAKYAT BAIK YANG MEMILIHNYA MAUPUN TIDAK.

PADA SAAT DIA MENJADI PEMIMPIN MAKA DIA HARUS SIAP MELAYANI RAKYAT BAIK YANG MEMILIHNYA MAUPUN TIDAK.

Image result for jokowi
bandarjudikiu.org
Menjadi pemimpin di era demokrasi itu sejatinya adalah menjadi pelayan, karena pada saat dia menjadi pemimpin maka dia harus siap melayani rakyat baik yang memilihnya maupun tidak. Berbeda dengan pemimpin di era kerajaan jaman dulu, dimana seorang raja harus dihormati dan dilayani bukannya melayani. Memang tidak semua raja seperti itu, ada juga yang baik dan melayani rakyatnya.

Dijaman demokrasi ini seorang pemimpin terpilih harusnya melayani rakyatnya. Sama dengan yang diucapkan oleh Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, yang tegas menyatakan dirinya siap melayani rakyat saat beliau menjadi Gubernur DKI, sayang warga DKI lebih memilih ahli tata kata yang bermental tuan dari pada memilih ahli tata kota yang mau menjadi pelayan rakyat. Hasilnya ya lihat saja sendiri DKI mundur 10 tahun, sedih bukan.

Bercermin dari sikap pemimpin sejati kita bisa melihat dari perilaku mereka, dan perilaku tidak bisa dicitrakan, alias dibuat- buat. Perilaku terbentuk dari kecil saat kita masih anak- anak dan terbentuk dari pergaulan sehari- hari. Banyak yang bilang Jokowi melakukan pencitraan, para pembenci Jokowi, oposisi tanpa prestasi yang tidak bisa membedakan kritik dan provokasi sering mengatakan bahwa Jokowi pencitraan, tetapi apa yang dilakukan Jokowi adalah benar dan tulus alias genuine, Jokowi aslinya ya memang begitu. Sejak beliau dari pengusaha sampai jadi Walikota ya memang beliau sudah begitu. Dan didikan kelurga Jawa sederhana itu melekat pada diri anak- anaknya, lihat saja bagaimana perilaku Jokowi menurun kepada anak- anaknya, sederha, penuh tata krama, tidak sombong atau arogan dan merakyat. Lihat saja bagaimana sikap Kaesang juragan pisang yang rela antri saat hendak melayat almarhumah Ibu Ani, semua elit Demokrat terkejut dan terbuka hatinya, bahwa memang buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

Jangan bandingkan Jokowi dengan sosok Prabowo, karena memang mereka tidak sebanding, Jokowi tidak selevel dengan Prabowo dia jauh- jauh sekali diatas Prabowo, mohon maaf Prabowo harus belajar adat dari anak- anak Jokowi, bagaimana bertutur kata dan berperilaku yang baik. Bisa jadi karena Prabowo besar dan dididik dalam keluarga kaya raya, dari kecil hidupnya sudah enak, sekolah diluar negeri, karena ayahnya dikejar - kejar oleh pemerintahan Soekarno karena kasus pemberontakan. Sejak itu keluarga Prabowo hidup diluar negeri. Sampai SMAnya pun di Amerika, bahkan adik kandung Prabowo, Hasyim menyatakan bahwa Prabowo pasti pro Amerika karena besar dan sekolah di Amerika, dan pernyataannya itu vdeonya viral di youtube, cari saja sendirilah ya gan. Hidup enak terus dilalui Prabowo sampai menikah dengan anak penguasa orde baru hidupnya tambah enak, karir moncer dan akhirnya tersandung kasis 98. Dipecat dan pergi ke luar negeri, lalu kabarnya bisnis senjata di Yordania.

Gaya hidup orang yang bergelimang harta alias crazy rich pasti berbedalah dengan gaya hidup rakyat jelata. Lihat saja bagaimana Prabowo pada saat kampanye menyiapkan cream tangan alias lotion yang dia bilang sendiri bahwa dia beli dari Eropa, dipakai ditangan biar licin katanya supaya jabatan tangan cepat terlepas. Lalu muncul lagi inovasi baru yaitu memakai sarung tangan, alasannya supaya tangan tidak lecet dan terluka. Bandingkan dengan Jokowi sang negarawan yang tulus dan melayani itu, beliau justru menjabat tangan rakyat dengan erat dan penuh sahabat, tidak perlu cream pelicin supaya tangan cepat terlepas, apalagi sarung tangan, Jokowi tidak perlu sarung tangan, dia ingin merasakan tangan- tangan rakyat yang dipimpinnya. Jokowi ingin merasakan kerinduan rakyat pada pemimpinnya, sentuhan kulit rakyat, keringar rakyat, adalah motivasi bagi Jokowi dalam membangun negeri yang luas dan kaya raya ini.

Bagi Jokowi merasakan sentuhan, keringat dan nafas rakyat, mendengar detak jantung secara intim dan dekat adalah kebutuhan bagi seorang pemimpin agar bisa mengerti rakyat yang dipimpinnya, walaupun Jokowi sudah berada di puncak kekuasaan yang memungkinnya melakukan apa saja yang diinginkannya, tetapi karena Jokowi memang berasal dari rakyat, beliau bukan kaum kaya apalagi bangsawan, dan beliau bukan tipe Malin Kundang yang kuwalat kepada orang tuanya, bagi Jokowi menyentuh rakyat secara langsung adalah keharusan, beliau tidak takut akan apapun, tidak takut terluka, tidak takut menjabat erat rakyatnya. Tugas berat Jokowi sebenarnya adalah menjabat tangan yang bukan pendukungnya, rakyat yang terkena hoax, para penistanya, para pembencinya, tapi bagi Jokowi ketulusan adalah senjatanya, karena Jokowi berasal dari rakyat dan bekerja untuk rakyat.

No comments:

Post a Comment