INILAH YANG TERJADI BELAKANGAN INI KETIKA RAMAI TERDENGAR KATA MAAF.
qqbandarjudi.info
Maaf? Heheh…nggak masalah dengan memberi kata maaf karena sebagai manusia pastinya tidak lepas dari kekhilafan dan salah. Tetapi, maaf juga yah, tidak semua perbuatan cukup diselesaikan dengan kata maaf. Didalam kondisi tertentu selain kata maaf, juga ada sanksi hukum yang mengikutinya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Lha, iyalah harus dibuat begitu karena kalau tidak bisa repot sekali negeri ini, ketika orang seenaknya saja berbuat tanpa ada efek jera.Inilah yang terjadi belakangan ini ketika ramai terdengar kata maaf, padahal lebaran rasanya masih jauh. Ini masih bulan puasa, bulan ibadah. Tetapi, mirisnya justru dibulan yang suci ini banyak sekali terjadi hal-hal yang bikin ngeri. Tarik nafas dalam karena nggak mengerti kok yah bisa itu terjadi oleh mereka-mereka yang maaf juga yah menggunakan kemasan keagamaan.
Ingat dong baru-baru ini ada seorang pemuda yang tampil begitu kepedean dalam sebuah demonstrasi di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Hebat benar, dengan suara lantangnya di depan kamera ponsel, pemuda berinisial HS (25) tersebut mengancam akan memenggal kepala Presiden Joko Widodo. Tetapi ketika polisi berhasil menciduknya, nyali pemuda tersebut mendadak ciut dan dengan gampangnya meminta maaf serta mengaku tindakannya itu karena emosional.
Wow…enak benar, memangnya dipikirnya bisa segampang itu?
Pemuda tersebut bukanlah satu-satunya orang dinegeri ini yang melakukan tindakan keji seperti itu. Di media sosial banyak ditemui kasus serupa, bukan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki tetapi juga wanita, ibu-ibu yang kehilangan akal sehatnya melakukan penghinaan, dan mengancam Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Contohnya HS yang ketika tampil viral terlihat bersama dua wanita didekatnya (kini juga sudah ditangkap) masih bisa cengar-cengir seperti menganggap hal yang dilakukan HS itu wajar?
Sedih saja, sekalipun mereka tidak suka kepada Pakde Jokowi, tetapi sebagai manusia beragama haruskah mereka itu menghina? Terlebih lagi Pakde Jokowi itu adalah presiden di negeri ini, simbol negara! Sebagai kepala negara Pakde Jokowi harus mendapatkan penghormatan dan dijaga wibawanya. Jadi tidak bisa seenak hatinya berucap! Punya mulut itu untuk memberkati, bukan untuk berkata dusta, mencaci dan menghina!
"Saya melihatnya lebih dari sisi etika dulu deh bahwa itu tidak pantas. Sebagai warga negara yang punya etika, janganlah memperlakukan kepala negara sebagai simbol negara seperti itu. Pasti akan menuai konsekuensi hukum," ujar Moeldoko.
Penulis sependapat dengan Moeldoko Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko bahwa tidak bisa orang seenaknya saja berucap di media sosial, kemudian dengan gampangnya meminta maaf ketika akan diproses hukum.
"Apa-apaan ini yang begini? Seenaknya berbuat sesuatu, tapi setelah polisi melakukan satu tindakan, minta maaf," ujar Moeldoko di kantornya, Selasa (14/5/2019).
Kasus-kasus seperti ini tidak lagi bisa dibiarkan, dan harus ada efek jeranya. Maaf dan sanksi hukum adalah dua hal yang berbeda. Memberikan maaf bukanlah berarti lepas dari jerat hukum. Memberikan sanksi hukum juga bukan berarti pemerintah kejam atau bahkan berpikir seakan ini mengada-ada.
Presiden Jokowi sendiri berlapang dada dan menyerahkan kasus ini kepada penegak hukum. Bayangkan dimana hatinya, ada rakyat yang tega mengancam memenggal kepala negara yang telah dengan susah payah bekerja memperjuangkan kesejahateraan rakyat dinegerinya, termasuk untuk dia si pelaku berinisial HS (25) itu!
"Ini kan bulan puasa. Kita semuanya puasa. Yang sabar," kata Jokowi merespons ancaman tersebut seusai meresmikan Tol Pandaan-Malang di gerbang tol Singosari, Kabupaten Malang, Senin (13/5/2019).
Memberikan maaf adalah hak dan teladan yang diberikan oleh Jokowi sebagai kepala negara kepada rakyatnya. Kita saja belum tentu mampu melakukannya ketika ada orang yang mengancam atau menghina kita. Tetapi, sudah saatnya kini semua harus lebih tegas dan keras. Jangan lagi ada maaf yang diumbar dengan mudahnya. Pertama yang harus dilakukan adalah sebuah tindakan. Memberikan maaf hanyalah memberikan kelonggaran, dan mengakibatkan ketidaktertiban. Harus diingat, Indonesia adalah negara hukum, ada aturan yang mengatur untuk semuanya yang ada di negeri ini!
"Kalau yang seperti itu dibiarkan, nanti negara ini menjadi chaos. Negara ini menjadi anarkis, negara ini menjadi enggak tertib. Negara kita ini harus tertib, enggak boleh lagi ya sembarangan," lanjut mantan Panglima TNI tersebut (Moeldoko).
HS hanyalah sekian dari banyak contoh yang entah karena ketidaktahuan, terprovokasi atau bahkan memang karena kebobrokan moral hingga kehilangan hati nurani tega dan mampu melakukan berbagai kekejian yang bahkan mereka viralkan. Di media sosial ada banyak ditemukan HS lain yang melakukan penghinaan terhadap Pakde Jokowi. Lalu, ketika dipolisikan dengan gampangnya meminta maaf. Enak benar yah! Kini, untuk apapun itu kata maaf tidak lagi cukup untuk menyelesaikannya.
Ketegasan hukum ini berlaku sama, baik kepada pendukung oposisi ataupun petahana, pun elitnya. Rakyat tidak bisa dibiarkan larut dalam permainan panasnya situasi politik, lalu tumbuh menjadi manusia mengerikan yang jauh dari etika dan tata krama. Konsekuensi hukum adalah efek jera yang harus ditegakkan!
No comments:
Post a Comment