Chat with us, powered by LiveChat bukti kemenangan: SETELAH RAJIA KAPOLDA JATIM IRJEN LUKI HERMAWAN BERHASIL MENEMUKAN BENDA SEPERTI BOM MOLOTOV YANG TELAH DIBAWA PENDUKUNG PRABOWO.

Monday, May 20, 2019

SETELAH RAJIA KAPOLDA JATIM IRJEN LUKI HERMAWAN BERHASIL MENEMUKAN BENDA SEPERTI BOM MOLOTOV YANG TELAH DIBAWA PENDUKUNG PRABOWO.

SETELAH RAJIA KAPOLDA JATIM  IRJEN LUKI HERMAWAN BERHASIL MENEMUKAN BENDA SEPERTI BOM MOLOTOV YANG TELAH DIBAWA PENDUKUNG PRABOWO.

Image result for bom molotov
qqbandarjudi.info

Beberapa bulan lalu saya pernah menulis tentang karakter para pendukung Prabowo. Saya simpulkan bahwa hanya orang yang suka perang yang mendukung Prabowo. Ini pendukung yang dari warga masyarakat ya. Bukan pendukung dari kalangan politisi. Kalau politisi kan memang punya agenda masing-masing. Namun, cara mereka menarik warga masyarakat untuk mendukung Prabowo memang seragam. Yakni dengan menyerukan “jihad” atau perang. Termasuk Neno Warisman dan Amien Rais.

Prabowo sendiri memang emosional. Pidato saja sampai gebrak-gebrak podium, nggak jelas maksudnya apa. Atau marahnya ke siapa? Hehehe… Dalam salah satu debat capres juga terbongkar obsesi Prabowo terhadap going to war atau berperang , ketimbang bekerja sama dengan negara-negara lain. Padahal, siapa sih negara di dunia ini yang mau buang-buang duit banyak buat berperang? Cara ini sudah sangat ketinggalan jaman. Tapi begitulah Prabowo. Dan justru sifat emosional dan karakter suka perang ini yang jadi magnet buat para pendukungnya dari kalangan warga masyarakat. Oleh sebab itu saya berkesimpulan, para pendukung Prabowo pun punya karakter yang serupa : beringas dan radikal. Lihat saja emak-emak pendukungnya. Juga yang sudah terciduk, pemuda yang mau memenggal kepala Presiden RI.

Para pendukung Prabowo ini pun sudah tercuci otaknya. Mereka dibiarkan menganggap pemilu sebagai ajang perang, ketimbang sebagai pesta rakyat. Dan ini memang sejalan dengan jurus propaganda yang dipakai oleh Prabowo, yakni menakut-nakuti rakyat. Dengan massa yang beringas, suka demo, teriak-teriak takbir seakan mau berperang. Entah sadar atau tidak bahwa yang diurusi ini sebenarnya hanyalah soal politik duniawi. Dan mereka itu hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk mencapai syahwat berkuasa sekelompok orang. Lihat saja ketika sudah ada pendukung radikal Prabowo yang terciduk karena melanggar undang undang. Ratna Sarumpaet aja "dibuang”, apalagi yang sekedar remah-remah rengginang. Kenal aja enggak kan! Sayangnya masing banyak yang sudah kadung tercuci otaknya. Membela Prabowo mati-matian, mau-maunya dimanfaatkan untuk memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Bahkan ancaman bom teroris pun tidak dipercaya.

Contohnya yang terjadi di Jawa Timur. Nampaknya Polda Jatim memang bekerja sangat keras untuk mencegah pergerakan massa ke Jakarta untuk ikut aksi tanggal 22 Mei. Dengan adanya ancaman bom dari para teroris, upaya ini sebenarnya untuk melindungi nyawa mereka ini agar tidak mati konyol. Tapi ya gitu deh, nggak disadari. Dalam berbagai operasi yang digelar, Polda Jatim sudah menggagalkan 1.200 orang yang akan berangkat ke Jakarta. Termasuk yang berasal dari Pamekasan, sebanyak 50-an orang. Mereka ini menggunakan 3 kendaraan mini bus. Menurut salah satu supir, mereka adalah rombongan santri. Yang mengagetkan adalah, polisi juga menemukan benda seperti bom molotov di dalam kendaran tersebut.

Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan mengatakan, polisi awalnya merazia rombongan ini di Jembatan Suramadu. Kemudian, rombongan dibawa ke Mapolda Jatim untuk dimintai keterangan dan diperiksa barang bawaannya. "Ini barusan, jadi dia berangkat pagi. Jam 13.00 WIB diamankan di Suramadu, melihat ada rombongan ini dibawa ke sini. Kita bawa ke kantor, rencananya kita periksa, kalau tidak ada apa-apa kita kembalikan, ternyata ini ada apa-apanya, mau gak mau kita dalami," kata Luki. "Pimpinan rombongan sedang didalami, nanti silakan dari Dirkrimum nanti akan menjelaskan setelah dilakukan pemeriksaan. Ada tiga mobil, 54 orang. Kita masih dalami apa ini isi cairannya ini apa, kita akan dalami dulu," lanjut Luki. "Barang itu tadi, kalau saya lihat, bau botol yang berbau minyak tanah, semacam bom molotov kita akan dalami ini," lanjutnya. "Ada 4 botol, ada satu kotak lain, belum kami lihat. Mereka akan rencana ke Jakarta, berangkat ke Jakarta," pungkas Luki. dari pemeriksaan sementara, rombongan ini akan mengikuti aksi 22 Mei di Jakarta.

Sementara itu, salah satu supir kendaraan mengaku tidak tahu akan adanya bom molotov di dalam mobil yang dia bawa. "Saya enggak tahu, ini kan mobilnya rental untuk jemput santri saya enggak periksa mobil. Diperiksa di Sampang sama di Suramadu (sama polisi)," kata Wasil. Namun dia membantah bahwa rombongan itu akan berangkat ke Jakarta. "Enggak ke Jakarta ini mau ke Bandara terminal dua mau jemput Pak Kiai. Ini kan santrinya semua tiga mobil," lanjutnya Sumber.

Saya lebih percaya pada feeling dan keterangan aparat kepolisian tentunya. Mereka lebih paham dalam menganalisa kebohongan. Hidung tajam mereka sudah mencium bau busuk niat rombongan santri ini. Hati saya miris tiap menulis kata “santri”. Mereka belajar apa ya kok sampai membawa bom molotov. Benci sama siapa? Marahnya kenapa? Apakah mereka pernah dilarang untuk beribadah oleh pemerintah? Kan enggak! Apakah keluarga mereka pernah disakiti oleh Presiden Jokowi? Nggak yakin lah saya. Terus ngapain ke Jakarta bawa-bawa bom molotov, kalau niatnya baik dan mulia, semulia bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan pengampunan ini? Hanya gara-gara Prabowo, rombongan santri ini malah berniat mengisi bulan Puasa dengan melempar bom molotov.





No comments:

Post a Comment